Inilah Tahapan Perkembangan Anak Bayi Sampai Remaja

tahapan perkembangan anak

Tahapan perkembangan anak berbanding lurus dengan cara mendidik anak. Kebanyakan bentuk karakter anak yang gagal bisa didasari penempatan metode didik yang kurang tepat. Pengetahuan seputar pertumbuhan anak justru menentukan akurasi keputusan orang tua baik dari segi hukuman maupun penghargaan dalam skala besar.

Secara garis besar, anak berkembang dalam 3 tahap. Masa bayi, balita, sekolah pertama, dan remaja. Mengenal karateristik tahap tersebut secara umum, tentu membantu orang tua memahami apa saja yang ada di masa mendatang.

Masa bayi (0 – 2 tahun)

Bagi orang tua baru, masa-masa bayi menjadi bagian paling menantang. Tak punya modal selain informasi berdasarkan pengalaman teman, dan tangisan bayi. Beberapa orang tua bahkan sampai hati menggambarkan masa bayi seperti kamp tentara. Ayah bunda tidak ada salah apa-apa, dipaksa bangun tengah malam guna meredakan tangis bayi yang bahkan tidak tahu apa maunya. Kalau bukan kasih sayang, pasti sudah angkat tangan.

Tak kenal maka tak sayang. Selama 2 tahun lamanya, orang tua punya kesempatan mengenal buah hatinya. Walaupun bayi punya status perkembangan tubuh yang agak mirip, sejatinya setiap individu berbeda. Baik sifat, sampai dengan tubuh sangat beragam, nyaris tidak bisa disamakan. Bahkan, saraf dalam otak yang membentuk ‘karakter bawaan’ anak bekerja tanpa aturan, sehingga menimbulkan keragaman unik tiada duanya.

Masa balita (3 – 5 tahun)

Tulang dan otot digerakkan oleh otak dalam beraktivitas sehari-hari. Kala bayi, seseorang tidak akan mampu menggunakan gerak tubuh secara maksimal karena otak masih dalam tahap ‘magang’ alias masih belum tahu betul bagaimana sistem operasi badan. Umumnya, di masa balita, seorang bayi berubah status jadi anak dan mampu melakukan aktivitas sederhana.

Selama 2 tahun lamanya bayi tidak mampu melihat, atau menggunakan telinga dengan sempurna. Daya tahan tubuh lemah membuat orang tua membiarkan si kecil selalu berada dalam rumah. Ibarat ‘petualang baru’, buah hati merasa paling tahu segalanya. Hasrat ingin tahu kian bergelora, jangan heran kalau si kecil mulai berlari-lari sendiri dan pamer penemuan ‘terbaru’, seperti cacing yang ditemukan di pot bunga misalnya.

Orang tua merupakan bagian paling penting pada masa balita. Sejauh ini, hanya ayah dan bunda yang jadi panutan anak dalam melakukan beragam hal. Bisa dibilang, satu-satunya idola sekaligus contoh anak dibebankan pada sosok orang tua. Ayah dan bunda harus ekstra hati-hati dalam bersikap. Jangan sampai anak salah kaprah dan mencoba sikap tak senonoh hanya karena orang tua gagal menjaga perilaku di sekeliling anak.

Komunikasi menjadi faktor yang cukup penting dalam hidup manusia. Balita mungkin bisa bicara, namun kosakata yang dipunya tidak banyak. Tugas ayah bunda adalah mengajak balita aktif berbicara, asal ‘berkicau’ saja, terlepas dari si kecil menanggapi atau tidak. Sebagian besar anak merekam kosakata yang diucapkan orang terdekatnya untuk digunakan nanti.

Sekolah pertama (6 – 12 tahun)

Masa sekola bisa dibilang masa paling menyenangkan. Anak masih polos dan suci tapi mampu melakukan beragam hal. Tahap ini paling cocok untuk pembelajaran dari segi apapun termasuk membantu di sekitar rumah. Berikan saja tanggung jawab menyapu, atau melipat pakaian dan memasukkan dalam lemari. Dengan memberi tugas rumah pada anak, secara tidak langsung mendidik anak untuk bertanggung jawab sejak dini.

Berhubung masa sekolah berarti anak kudu menemui lingkungan baru, bisa jadi agak menakutkan baik dari sisi orang tua maupun si kecil. Tidak ada yang tahu orang macam apa yang ditemui oleh anak nantinya. Sekilas, anak kerjaannya hanya bermain dan bercanda gurau, tapi dibalik itu tersimpan horror yang mendalam.

Manusia tergolong mahluk yang mementingkan hukum alam, dimana yang terkuat akan jadi penguasa. Dengan gamblang anak kecil akan menunjukkan pola ini entah dengan cara mereka sendiri dalam bersosialisasi. Tidak perlu orang tua turun tangan langsung untuk memastikan kondisi anak, yang jelas tetap pertahankan komunikasi dan segera atasi kalau ada yang salah.

Berhubung anak sudah mulai bersosialisasi, mau tidak mau dirinya akan dihadapkan cobaan. Disinilah orang tua bisa paham karakter anak. Ingat, bagaimana buah hati menyelesaikan masalahnya mencerminkan pola pikir yang dipunyai. Arahkan selalu anak pada jalan yang menurut ayah bunda paling pantas dalam hidup ini.

Remaja (13 – 17 tahun)

Setelah musim subur tiba, kini saatnya musim pancaroba. Remaja, suatu masa paling sulit baik dari segi orang tua dan anak. Pubertas yang umumnya dialami pada usia 13 sampai 17 tahun ini mengubah tubuh sampai dengan perasaan anak. Bagaikan puzzle, ayah bunda akan butuh waktu untuk menyusun kembali siapa anak orang tua.

Karakter anak akan banyak dipertanyakan di masa remaja. Rasa ingin membuktikkan dirinya paling keren mungkin perlu diarahkan dengan baik. Ayah bunda bisa jadi merasa anak begitu jauh, dan hal ini sangat wajar. Independensi fana yang dirasakan anak membuatnya tidak terlalu peduli dengan kondisi atau malah merasa malu menunjukkan kepedulian.

Bingung, sudah biasa muncul di benak ayah bunda. Bukan berarti, tidak ada yang bisa ayah bunda lakukan. Terdengar konyol, tapi di masa remaja sebaiknya ayah bunda rileks saja. Kata jangan tergolong tabu, karena larangan berarti menyuruh buah hatinya melakukan hal tersebut. Pastikan saja memang orang-orang di sekelilingnya dapat terjamin dalam tahapan perkembangan anak satu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *